Puncak Acara Festival Cinta – Peduli Kusta Naob

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga Koordinator Paroki Choice Katedral Jakarta dapat mengadakan kegiatan bakti sosial “Festival Cinta” dalam rangka penggalangan dana bagi Para Penderita dan Mantan Penderita Kusta yang dikelola oleh Yayasan Sosial Ibu Anfrida – Konggregasi Tarekat Puteri Reinha Rosari (PRR) di Naob, Kefamenamu, NTT.

 
Tidak terasa perjalanan Panitia Peduli Kusta selama 1 tahun (2012-2013) telah berakhir. Sebagai ungkapan rasa syukur atas segala rahmat-Nya, dan rasa terima kasih atas dukungan dari semua pihak baik Para Donatur, Para Sponsor, dan seluruh pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu maka sebagai Puncak Acara Festival Cinta, Panitia mengadakan Misa Syukur (dipimpin oleh Pastor S. Bratakartana, SJ) yang disertai dengan Penyerahan Seluruh Hasil Pencarian Dana kepada Yayasan Sosial Ibu Anfrida, yang diwakilkan oleh Sr. Wilfrida, PRR pada tanggal 14 September 2013, di Ruang Matius, Gereja Katedral Jakarta.

 

Total dana yang terkumpul adalah sebesar Rp. 153.744.825,- (seratus lima puluh tiga juta tujuh ratus empat puluh empat ribu delapan ratus dua puluh lima rupiah). Selanjutnya dana tersebut akan dipakai untuk membiayai kehidupan para penderita dan mantan penderita kusta di Naob.

 

Atas nama Segenap Panitia Peduli Kusta – Naob kami menghaturkan banyak terima kasih khususnya kepada Pastor Kepala Paroki Katedral, Romo S. Bratakartana, SJ atas segala dukungan dan perhatian yang telah kami terima sejak kegiatan ini mulai berlangsung. Semua dukungan sangat membantu kami sehingga seluruh rangkaian kegiatan FESTIVAL CINTA dapat berjalan dengan baik dan lancar.

 

Akhir kata kami juga memohon maaf apabila dalam pelaksanaannya ada hal-hal yang kurang berkenan.
Semoga di lain waktu kami dapat kembali melakukan aksi nyata bagi sesama yang membutuhkan.

 

Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.
Tuhan Memberkati!
 

 

Salam kasih,
KorPar CHOICE Katedral Jakarta

Merangkul Mantan Penderita Kusta agar bangkit dari keterkucilan bersama Ir. Ciputra

Bapak Ir. Ciputra bersama dengan Perwakilan Grup Ciputra mengadakan kunjungan ke Komunitas Mantan Penderita Kusta, untuk memberikan semangat dan menyarankan agar mereka belajar ENTREPRENEURSHIP supaya lebih mandiri dan melawan stigma dan pengucilan dari masyarakat umum. Bagaimana menurut Anda? ‪#‎entrepreneur‬ ‪#‎entrepreneurship‬

Sumber : https://www.facebook.com/InsinyurCiputra

 

Choice Peduli Kusta

HIDUPKATOLIK.com- Koordinator Paroki (Korpar) Choice Katedral Jakarta kembali menggalang dana bagi penderita dan mantan penderita kusta di Naob, Kefamenamu, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur yang dikelola para suster Puteri Reinha Rosari (PRR). Kali ini penggalangan dana dilakukan dengan menggelar seminar yang menghadirkan pembicara James Gwee di Ruang Yohanes, Gereja Katedral Jakarta, Sabtu, 13/7.Menurut ketua panitia Christopher Sukrisman, penggalangan dana ini dilakukan karena selama ini pemerintah dan masyarakat masih kurang memperhatikan mereka yang menderita kusta. “Ini bukan sekadar masalah penyakitnya, tetapi karena stigma masyarakat kepada mereka yang menderita kusta. Mereka sering dikesampingkan, padahal sudah dinyatakan sembuh,” tegas Christopher.

Sebelumnya, Korpar Choice Katedral Jakarta pernah mengadakan acara serupa yang bekerjasama dengan Yayasan Sosial Marfati Tangerang. Mereka mengadakan LG Choice Peduli Kusta I (2003), Malam Kasih Peduli Kusta II (2006), dan Malam Kasih Peduli Kusta III (2009). Seluruh dana disalurkan kepada Yayasan Sosial Marfati.

- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2013/07/26/choice-peduli-kusta#sthash.DO2MY3ba.dpuf

Seminar “Grab Your Audience” – Mr. James Gwee

HOW TO IMPRESS PEOPLE, MAKE THEM LISTEN AND TRUST YOU !

Koordinator Paroki Choice Katedral Jakarta kembali mengajak Anda untuk mengikuti :
SEMINAR “GRAB YOUR AUDIENCE”, yang akan dibawakan oleh Mr. James Gwee, T.H.,MBA
Hari/Tanggal : Sabtu, 13 Juli 2013
Waktu : Pk. 13.00 – 15.00 (Registrasi Pk. 12.00)
Lokasi : Ruang Yohanes, Aula Atas Gereja Katedral Jakarta
HTM : Rp. 175.000,- (incl. snack)
Untuk informasi dan pendaftaran harap hubungi :
-          Fanny  : 0818 0871 7474
-          Yuni     : 0815 8518 5019
-          Rita      : 021 6882 9966
-          Arifin   : 0856 780 9848, Pin BB : 33214725
Semua hasil dari kegiatan ini akan kami sumbangkan kepada Para Suster PRR untuk membiayai kegiatan mereka bagi para penderita dan mantan penderita kusta di NAOB, NTT.
“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu, tinggallah di dalam kasih-Ku itu”. (Yoh. 15:9)

Ulang Tahun Blog dan Acara Peduli Kusta 2 Mei 2009 by Sandra Dewi

Sabtu, 2 Mei 2009

Untuk ulang tahun kali ini di tepat tanggal 2 mei aku mengadakan acara peduli kusta di Taman Ismail Marzuki. Acara mulai jam 6sore. Untuk tiket dan informasi bisa diliat di forum. Di acara amal ini aku sebagai duta mantan penderita orang kusta. Dimana aku harus menginformasikan kepada seluruh masyarakat di Indonesia kalau mereka yang sudah sembuh dari kusta, mereka tidak akan menularkan penyakit kusta mereka lagi. Jadi jangan mengucilkan mereka, dan jangan menyingkirkan mereka. Mereka adalah orang yang sangat menderita dan kurang mampu. Aku mengunjungi tempat rehabilitasi mereka, mereka menjahit, memotong kain dan menyetrika pakaian olahraga, seragam sekolah dan seragam kantor.

Mereka sangat terampil dan mengerjakan semua dengan rapi. Ketika orang2 tahu kalo yang mengerjakan adalah mantan penderita kusta, mereka batal untuk membelinya. Aku liat sendiri mereka sembuh dan punya anak normal. Aku juga mengunjungi rumah sakit kusta. Disana sangat memprihatinkan, anggota tubuh mereka di amputasi, mereka tergolek lemas dan bekas operasinya membusuk. Keadaan disana sangat miskin dan hawanya sangat tidak enak. Waktu kunjungan kesana banyak yang tidak mau turun, hanya aku , dokter dan cameramen saja. Bayangkan betapa susah menyadarkan orang2 kl mantan penderita kusta sudah sembuh tidak akan menularkan lagi penyakit mereka. Semoga apa yang aku kampanyekan bisa menyentuh hati orang lain yah, kita semua. Mereka saudara kita. Aku juga bukan siapa2 tapi aku hanya ingin mengajak teman2 untuk tahu tentang mereka. Sedikit dari kita tapi luar biasa buat mereka. Aku akan cerita gimana acaranya yah.

salam sd

KORPAR Choice Katedral-Jakarta Gelar “Malam Kasih Peduli Kusta 3”

Posted: May. 04, 2009 18:27:01 WIB

JAKARTA – Setelah sukses dengan LG-Choice Peduli Kusta I tahun 2003, dan dilanjutkan dengan Malam Peduli Kusta II pada bulan April 2006 di Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, kembali dalam acara yang sama, Sabtu (2/5) lalu KORPAR Choice Katedral-Jakarta mengadakan “Malam Kasih Peduli Kusta 3”, bertempat di Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

 

Acara “Malam Kasih Peduli Kusta 3” yang digelar pada malam tersebut merupakan acara puncak dari rangkaian kegiatan Peduli Kusta 3 yang diadakan dalam rangka penggalangan dana bagi para mantan penderita kusta yang dikelola oleh Yayasan Marfati, JMJ Sitanala.

 

Masih kuatnya “Stigma” yang melekat pada diri para mantan penderita kusta dalam benak banyak orang, membuat masyarakat masih belum dapat menerima kehadiran para mantan penderita kusta di tengah-tengah kehidupan sosial dan pekerjaan.

 

Akibatnya, tak pelak banyak para mantan penderita kusta yang mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan mengais penghasilan. Banyak diantara mereka yang akhirnya menjadi pengangguran dan pengemis, sebagian yang beruntung menjadi tukang becak dan kuli kasar.

 

Melihat kenyataan yang miris tersebut dan upaya untuk meresponinya dalam tindakan nyata, Yayasan Sosial Marfati terpanggil untuk membantu memperbaiki tingkat kesejahteraan komunitas mantan penderita kusta melalui pemberian sarana usaha bagi mantan penderita kusta.

korpar-choice-katedral-jakarta-gelar-malam-kasih-peduli-kusta-3

 

Keterbatasan dana yang ada saat ini, menyebabkan hanya sedikit bidang usaha yang dapat dikelola yayasan tersebut, sehingga hanya sedikit sekali para mantan penderita kusta yang dapat dibantu. Untuk itu Yayasan Sosial Marfati bekerjasama dengan kelompok Bakti Sosial KORPAR Choice Katedral-Jakarta menyelenggarakan beberapa kegiatan yang telah dimulai sejak Juli 2008 sampai April 2009 dalam upaya pengggalangan dana guna melanjutkan pembinaan bagi orang-orang mantan penderita kusta,.

 

Konsep program yang dilakukan berupa pengenalan karya pelayanan Yayasan Sosial Marfati melalui rangkaian kegiatan penjualan Kupon Kasih, Seminar yang menghadirkan antara lain (Andrie Wongso, James Gwee, Tung Desem Waringin, Alexander Sriewiyono, Thomas Sugiarto), dan sebagai puncak rangkaian kegiatan tersebut digelar acara “Malam Kasih Peduli Kusta 3”.

 

Selain untuk memperkenalkan keberadaan dan aktivitas pelayanan Yayasan Sosial Marfati bagi para mantan penderita kusta kepada masyarakat dan upaya penggalangan dana, rangkaian kegiatan tersebut juga bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk ikut terlibat dalam pelayanan social bagi para mantan penderita kusta baik dalam bentuk bantuan dana maupun kerjasama.

 

Pada acara “Malam Kasih Peduli Kusta 3” lalu dipandu oleh Daniel Mananta dan Olga Lydia serta dimeriahkan oleh Sandra Dewi yang juga merupakan Humas KOMATA yang pada kesempatan tersebut secara simbolis menerima pengangkatan sebagai Duta Keliling Kusta.

 

Salah satu sesi acara yang cukup menegangkan dan mengundang antusiasme hadirin pada malam itu sesi penjualan lukisan yang berjudul “Merpati dan Nada Biru si Kusta” karya Tommy Tomdean seorang mantan penderita kusta.

 

Lukisan “Merpati dan Nada Biru si Kusta” tersebut berhasil terjual kepada penawar tertinggi senilai 45 juta rupiah kepada seorang pengusaha bernama Arpit yang pada kesempatan tersebut penyerahan sertifikat pembeliannya diwakili oleh Dr. A.B. Susanto SE, MA yang merupakan The Ambassador of The Leprosy Mission International to Indonesia.

 

Puncak acara yang berlangsung sukses dan meriah malam itu diakhiri dengan penampilan Operet “Gadis Pemain Biola”. Melalui kegiatan ini pihak panitia mengharapkan agar masyarakat dapat memberikan perhatian bagi para mantan penderita kusta melalui dukungan dana maupun bentuk kerjasama yang dapat membantu pelayanan misi Yayasan Sosial Marfati.

Sumber : http://www.christianpost.co.id/ministri/20090504/4800/korpar-choice-katedral-jakarta-gelar-malam-kasih-peduli-kusta-3/

 

CHARITY IN NAOB

Senin, 14 Maret 2011

INTRODUCING OF PRR
Puteri Reinha Rosary / SISTER ‘S OF LADY QUEEN OF Holy Rosary.
Puteri Reinha Rosary (PRR) Congregation is a native religious Order, founded in the small town LEBAO, Larantuka, East Flores, NTT, the Diocese of Larantuka, on August 15, 1958, by Mr. Bishop Larantuka Mgr. Gabriel Manek SVD, and Co founder of the Sisters Anfrida SSpS. When served in Lembata, Father Gabriel Manek, SVD diligent visiting lepers who at that time (the Japanese) were collected in a remote area. Although hampered by a variety of ways, including: destruction of boats that are often used to visit the Leprosy patients, but he continued to visit them on foot. Thanks to the efforts he was when he became the first bishop in Larantuka, at St. Lewoleba standing hospital. Damian serving lepers. PRR is now present in the church with the readiness to serve local needs on the go according to plan and will of God. With missions based on the vision of Founder, which is assistance for people with leprosy, so they feel welcome and try to live in society. Efforts to Christian ministry became one of his works. Then in 1998 she founded several walled buildings bebak (palm leaf midrib), to shelter the leprosy patients who need care, the end of September 1998 a team of medical referral from Sintanala Leprosy Hospital, Tangerang Naob review, and since then terjalinlah good cooperation.
At the time of serving the congregation PRR Atambua diocese, Dekanat East North Central, Kefamenanu, Soe, Rote and Kupang. With a population of around 30,000 inhabitants, of whom there who suffer from lepros, poor nutrition, education and low awareness and poor health. Some of them, stay far enough away from the center, and often they come by foot and inventory costs are minimal. They are isolated from society and family, and removed and stay in the garden, because surrounding communities are still afraid of leprosy.
SOCIAL FOUNDATION OF MOTHER ANFRIDA (YAYASAN SOSIAL IBU ANFIDA)
To help the accuracy and effectiveness of services PRR, the PRR built a social institution of the Foundation that is named YAYASAN SOSIAL IBU ANFRIDA, which provides social services in all areas of humanity, and for the Naob foundation serving the people of Leprosy. In 1996, Mother Sister Foundation Anfrida, SSpS, based in Larantuka establish clinics, maternity homes in the village of Eternal Mother Maid Naob, sub Noemuti East, North Central Timor regency. Social foundations of this anfrida mother, was inaugurated by the Decree of the Minister of Justice and Human Rights Republic of Indonesia No. C-2227.HT.01.02. TH 2006.

IN NAOB, PRR SISTER’S IN THE FOUNDATION SERVE LEPROSY, whether it be THAT is not better OR who had recovered (THOSE SUFFERING LIFE AND POOR)

CHARITY IN NAOB
Why choose NAOB:
Naob village was chosen because its remote location and challenging; were in line with the spirit of Msgr. Gabriel Manek as the founder of PRR. Located 15 km from Kupang-Atambua highway, the road to the location of the amplified still a land of coconut with a stone on the path to car tires, which in the rainy season conditions are very slippery. Arid region, and to get water, the sisters had to go to that place the river is 1 (one) kilometer from the site. For a while the sisters occupy a walled chapel from bebak (palm leaf midrib). The Diocese  provide land area of ​​10 ha to be managed, which is located opposite the chapel, a eucalyptus forest.
We are compelled to serve with sincerity and joy of Mother Mary Queen of the Rosary Maid Always for people with leprosy, disability, and other sick.
ABOUT LEPROSY
Leprosy disease in Indonesia ranks to 3 (three) from all over the world, after India and Brazil. Based on the report of the World Health Organization (WHO) in 2004, the number of new leprosy patients in Indonesia there are 16,549 cases. NTT including 1 (one) among the 12 (twelve) provincial prevalence of 1 (one) among 10,000 residents. In addition to the remote location of the patient, attitude of people who are still afraid of leprosy, is an obstacle to achieving the leprosy elimination target.
The disease of leprosy can lead to disability that is visible from the outside, so that sufferers shunned and feared. Therefore, the handling of defects plays an important role in the effort to eliminate Leprofobia. If leprofobia already lost, the leprosy patients can seek treatment without feeling ashamed / shy, so in turn later leprosy can be eradicated.
WHO Policy (followed also by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia) in the handling of leprosy patients is the treatment of the road. With this pattern, people with leprosy do not need to be hospitalized, except if the condition does need treatment in hospital. In Indonesia, the administration of drugs to sufferers of leprosy can be done in Puskemas. After undergoing treatment period (6 or 12 months, depending on the type of illness), then the patient is declared cured. Most of the leprosy patients, physical disability, who require further treatment (physiotherapy, Prosthetic, operations) that can only be done in hospitals that have facilities for it.
In NTT, the leprosy hospital was in CANCAR (Manggarai District, Flores Island) and Lewoleba (Lembata District, Island Lomblen). The existence of leprosy hospital in mainland East will greatly help the program to eradicate leprosy
NAOB used to be discarded PLACE TO THOSE SUFFERING LEPROSY. MANY PEOPLE IN THIS AREA ARE SUFFERING LEPROSY TREATMENT AND NOT GETTING A REASONABLE.
NAOB NOW IN SESSION
Thanks to the support of the donors, then in mid-2001 began to set up a permanent building which then serves as a simple outpatient clinic and operating room and an other building to practice various skills such as weaving and sewing sewing, in addition to two wards for male patients with a capacity of 30 beds and several wells with a jet pump. Land which was originally in the form of eucalyptus forests and shrubs, slowly made garden that produces rice, vegetables, cassava, sweet potatoes, corn, beans, etc..
As more and more activities in Naob, it was decided to establish a new foundation based in Kupang, with the name of Mother Anfrida Foundation (in honor of Mother co-founder of the Order PRR)
Currently being treated about 40 patients, 28 men and 12 women, come from various districts of Timor, the island of Rote, Sabu and many other islands around the East. Ward women need plus one unit again, because too many female patients.
  1. Leprosy Hospital and the General Disability Naob
On August 15, 2007, based on the Decree of the Head of East Nusa Tenggara Provincial Health Office, No: 339A/442A/VIII/2007 Medical Care, Rehabilitation Clinical status was upgraded to Leprosy Hospital, Leprosy and Disability General, in order to serve patients optimally. Then planned to build some mass building adjacent to each other in accordance with its function as a hospital, in a site area of ​​1.5 hectares, which is separate from the existing complex of buildings at this time. The plan, after the entire complex was completed hospital facility, all maintenance activities and a variety of diagnostic facilities and medical rehabilitation, moved to new locations, and the old building will be used for vocational training facilities, the protection in their independence to return to society. Currently Development uterus it running.
  1. Naob Rehabilitation Center
The human activities can be utilized for the pilot, for both health workers and ordinary people. With a capacity of 60 beds, the Leprosy Hospital in Naob Eternal Mother Maid can be used by doctors and nurses to better understand the clinical symptoms and disabled people with leprosy, as well as various efforts to prevent / reduce defects. Cooperation with the surgical team from within and outside the country will greatly help sufferers of a disability / injury, and in the long term can be used as a place of education for potential differences in particular plastic surgeon and orthopedic surgery, medical rehabilitation and physiotherapy. How health workers in treating and dealing with leprosy patients can also be an example for ordinary people so that they do not disgust and fear of lepers.
 In addition, plantation and livestock also may serve as an example and a training ground for the community around, especially in the processing of compost for fertilizer.
Mother Social Empowerment Program Foundation Anfrida To Leprosy Patients:
  1. The healing process that continues to walk with intensive care to the patients of Leprosy: This process includes the provision of drugs on a regular basis, routine treatment for wounds, Fisiotherapy, Orthophedic, Operation
  2. Socio-economic empowerment; Organic Agriculture, Livestock, traditional weaving, handicrafts, schools for children of leprosy and the poor, etc.
  3. Survey contak to the patient who may not be considered sekaigus discourse socialization of the importance of health
Progress in the future:
  1. Leprosy patients who had recovered and not recovered no trouble in the process of routine maintenance
  2. Leprosy patients are not cured and is cured not experiencing economic difficulties

Sumber : http://naobleprosy.blogspot.com/2011/03/charity-in-naob.html

PENDERITA KUSTA DI REHABILITASI NAOB NTT

Mungkin Naob bukanlah menjadi sebuah region yang sudah dikenal dengan luas oleh berbagai kalangan.
Namun dalam keterpencilan, Naob telah menjadi sebuah PELAYANAN KASIH.
Wacana ini merupakan wacana pertama sekaligus sangat sederhana untuk melihat lebih jauh tentang profil penderita kusta yang ada di Panti Rehabilitasi Naob.
Sumber : http://nongmoaidea.blogspot.com/2009/04/potret-penderita-kusta-di-naob-timor.html

Penjualan Kalender 2013 – St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga

 

KORPAR Choice Katedral dan Paroki Katedral Jakarta bekerja sama untuk mengadakan Penjualan Kalender 2013.

Foto-foto di kalender berasal dari Koleksi Photo For Love.

Penjualan di mulai pada tanggal 15 – 31 Desember 2012.

Seluruh hasil penjualan akan kami serahkan kepada Para Suster PRR untuk membiayai kehidupan para penderita dan mantan penderita kusta di Naob, NTT.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam penjualan kalender 2013.

 

 

 

 

 

 

 

HAPUS STIGMA DAN DISKRIMINASI TERHADAP KUSTA

Jakarta, 13 Februari 2013 Kecacatan pada penderita kusta, seringkali tampak menyeramkan bagi sebagian orang, sehingga muncul perasaan takut yang berlebihan terhadap kusta atau leprofobia. Akibatnya, meskipun penderita kusta telah sembuh secara medis, tapi predikat kusta tetap melekat pada diri mereka seumur hidup. Predikat ini melatar-belakangi permasalahan psikologis bagi Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK), sehingga mereka akan merasa takut, kecewa, depresi, tidak percaya diri, malu, merasa diri tidak berharga, tidak berguna, dan khawatir akan dikucilkan.

Demikian pernyataan Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, pada Pembukaan Workshop Pemberdayaan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) dan Peresmian Gedung Pelayanan Poliklinik Kusta Terpadu dalam rangka Peringatan Hari Kusta Sedunia ke-60, di Rumah Sakit Kusta Dr. Sitanala, Tangerang (13/2).

Hari Kusta Sedunia  diperingati pada hari Minggu terakhir bulan Januari setiap tahunnya. Pada 2013, Hari Kusta Sedunia jatuh pada 27 Januari 2013. Tema Hari Kusta Sedunia tahun ini adalah ”Hapus Stigma dan Diskriminasi terhadap Kusta” dengan sub-tema Kusta Tidak Menjadi Halangan untuk Berkarya.

“Stigma negatif menyebabkan hak asasi OYPMK  sebagai seorang manusia dan bagian dari masyarakat tidak terpenuhi”, ujar Menkes.

Dalam sambutannya, Menkes mencontohkan beberapa penolakan oleh masyarakat terhadap penderita kusta, antara lain dikeluarkan dari pekerjaan, dan diceraikan pasangan. Bahkan, tidak jarang diskriminasi ditunjukkan dalam bentuk keengganan petugas kesehatan melayani penderita kusta yang seharusnya justru memberikan pelayanan kepada penderita.

Menkes menerangkan pada peringatan Hari Kusta Sedunia tahun lalu, telah dilakukan Penandatanganan Piagam Seruan  Nasional Mengatasi  Kusta oleh organisasi wakil-wakil profesi. Piagam ini menyerukan agar stigma dan diskriminasi terhadap OYPMK di pelayanan kesehatan dihentikan.

Indonesia masih menjadi penyumbang kasus kusta nomor 3 terbanyak di dunia, setelah India dan Brasil. Pada 2011, Indonesia melaporkan 20.023 kasus baru kusta. Berdasarkan angka tersebut, jumlah kasus dengan  kecacatan tingkat 2, yaitu cacat yang kelihatan, berjumlah2.025 orang (10,11%).

Menkes menekankan bahwa dalam upaya pengendalian kusta, diperlukan perhatian dalam hal penemuan penderita kusta, serta pengobatan dini sebelum terjadinya kecacatan, khususnya di fasilitas pelayanan kesehatan.

“Upaya ini membutuhkan dukungan dari seluruh stakeholders dan seluruh lapisan masyarakat, termasuk OYPMK”, tandas Menkes.

Usai kegiatan peresmian, Menkes RI didampingi Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE; serta Direktur Utama RS Kusta Dr. Sitanala, drg. Liliana Lazuardy, M.Kes, berkunjung ke Poliklinik Kusta Terpadu, dan berinteraksi langsung dengan para pasien baik penderita kusta, maupun OYPMK.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website depkes.go.id dan alamat e-mail kontak@depkes.go.id