INFORMASI KUSTA DAN GEJALANYA

DokterSehat.com – Istilah kusta berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta atau lepra disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen.

Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata.

“Tidak seperti mitos yang beredar di masyarakat, kusta tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh yang begitu mudah, seperti pada penyakit tzaraath yang digambarkan dan sering disamakan dengan kusta.”

Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh manusia yang dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah. Waktu inkubasinya panjang, mungkin beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan pasien mendapatkan infeksi sewaktu masa kanak-kanak.

Tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan pada anggota badan atau bagian raut muka, dan mati rasa karena kerusakan syaraf tepi. Gejalanya memang tidak selalu tampak. Justru sebaiknya waspada jika ada anggota keluarga yang menderita luka tak kunjung sembuh dalam jangka waktu lama. Juga bila luka ditekan dengan jari tidak terasa sakit.

Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.

Kusta tipe Pausi Bacillary atau disebut juga kusta kering adalah bilamana ada bercak keputihan seperti panu dan mati rasa atau kurang merasa, permukaan bercak kering dan kasar serta tidak berkeringat, tidak tumbuh rambut/bulu, bercak pada kulit antara 1-5 tempat. Ada kerusakan saraf tepi pada satu tempat, hasil pemeriksaan bakteriologis negatif (-), Tipe kusta ini tidak menular.

Sedangkan Kusta tipe Multi Bacillary atau disebut juga kusta basah adalah bilamana bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata diseluruh kulit badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, bercak pada kulit lebih dari 5 tempat, kerusakan banyak saraf tepi dan hasil pemeriksaan bakteriologi positif (+). Tipe seperti ini sangat mudah menular.

Tanda Penyakit Kusta

Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut yaitu:

  • Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia.
  • Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak.
  • Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus serta peroneus.
  • Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.
  • Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit.
  • Alis rambut rontok.
  • Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa).

Gejala Umum Kusta/Lepra

Gejala-gejala umum pada kusta / lepra, reaksi :

  • Panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil.
  • Noreksia.
  • Nausea, kadang-kadang disertai vomitus.
  • Cephalgia.
  • Kadang-kadang disertai iritasi, Orchitis dan Pleuritis.
  • Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia, Nepritis dan hepatospleenomegali.
  • Neuritis.
  • Penyebab Penyakit Kusta

Penyebab kusta adalah kuman mycobacterium leprae. Dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang, dikelilingi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium, berukuran panjang 1 – 8 micro, lebar 0,2 – 0,5 micro biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel dan bersifat tahan asam (BTA) atau gram positif, tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan asam”. Selain banyak membentuk safrifit, terdapat juga golongan organisme patogen (misalnya Mycrobacterium tuberculosis, Mycrobakterium leprae) yang menyebabkan penyakit menahun dengan menimbulkan lesi jenis granuloma infeksion. Mycobacterium leprae belum dapat dikultur pada laboratorium.

Kuman Mycobacterium Leprae menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan, kemudian kuman membelah dalam jangka 14-21 hari dengan masa inkubasi rata-rata dua hingga lima tahun. Setelah lima tahun, tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta mulai muncul antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, rasa kesemutan bagian anggota tubuh hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Cara Penularan

Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas, penularan di dalam rumah tangga dan kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan kusta.

Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:

Melalui sekresi hidung, basil yang berasal dari sekresi hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.
Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.

Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain :

1. Faktor Kuman kusta
Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh (solid) bentuknya, lebih besar kemungkinan menyebabkan penularan daripada kuman yang tidak utuh lagi. Mycobacterium leprae bersifat tahan asam, berbentuk batang dengan panjang 1-8 mikron dan lebar 0,2-0,5 mikron, biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin. Kuman kusta dapat hidup di luar tubuh manusia antara 1 sampai 9 hari tergantung suhu atau cuaca dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja dapat menimbulkan penularan (Depkes RI, 2002).

2. Faktor Imunitas
Sebagian manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Dari hasil penelitian menunjukan bahwa dari 100 orang yang terpapar, 95 orang yang tidak menjadi sakit, 3 orang sembuh sendiri tanpa obat dan 2 orang menjadi sakit. Hal ini belum lagi mempertimbangkan pengaruh pengobatan (Depkes RI, 2002).

3. Keadaan Lingkungan
Keadaan rumah yang berjejal yang biasanya berkaitan dengan kemiskinan, merupakan faktor penyebab tingginya angka kusta. Sebaliknya dengan meningkatnya taraf hidup dan perbaikan imunitas merupakan faktor utama mencegah munculnya kusta.

4. Faktor Umur
Penyakit kusta jarang ditemukan pada bayi. Incidence Rate penyakit ini meningkat sesuai umur dengan puncak pada umur 10 sampai 20 tahun dan kemudian menurun. Prevalensinya juga meningkat sesuai dengan umur dengan puncak umur 30 sampai 50 tahun dan kemudian secara perlahan-lahan menurun.

5. Faktor Jenis Kelamin
Insiden maupun prevalensi pada laki-laki lebih banyak dari pada wanita, kecuali di Afrika dimana wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Faktor fisiologis seperti pubertas, monopause, Kehamilan, infeksi dan malnutrisi akan mengakibatkan perubahan klinis penyakit kusta.


Upaya Pencegahan Penyakit Kusta

Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Faktor pengobatan adalah amat penting dimana kusta dapat dihancurkan, sehingga penularan dapat dicegah.

Pengobatan kepada penderita kusta adalah merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Kuman kusta diluar tubuh manusia dapat hidup 24-48 jam dan ada yang berpendapat sampai 7 hari, ini tergantung dari suhu dan cuaca diluar tubuh manusia tersebut. Makin panas cuaca makin cepatlah kuman kusta mati. Jadi dalam hal ini pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat yang lembab.

Penting sekali kita mengetahui atau mengerti beberapa hal tentang penyakit kusta ini, bahwa :

  • Ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta.
  • Sekurang-kurangnya 80 % dari semua orang tidak mungkin terkena kusta.
  • Enam dari tujuh kasus kusta tidaklah menular pada orang lain.
  • Kasus-kasus menular tidak akan menular setelah diobati kira-kira 6 bulan secara teratur.

Penanggulangan Penyakit Kusta

Penanggulangan penyakit kusta telah banyak dilakukan dimana-mana dengan maksud mengembalikan penderita kusta menjadi manusia yang berguna, mandiri, produktif dan percaya diri. Metode penanggulangan ini terdiri dari metode rehabilitasi yang terdiri dari rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial, rehabilitasi karya dan metode pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi, dimana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok tersendiri. Ketiga metode tersebut merupakan suatu sistem yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Di Indonesia, upaya yang dilakukan untuk pemberantasan penyakit kusta melalui :

  • Penemuan penderita secara dini.
  • Pengobatan penderita.
  • Penyuluhan kesehatan di bidang kusta.
  • Peningkatan ketrampilan petugas kesehatan di bidang kusta.
  • Rehabilitasi penderita kusta.
  • Sementara itu di Shandong, Penyakit kusta atau lepra bisa jadi merupakan salah satu penyakit yang ditakuti karena bisa membuat orang tersebut menjadi terkucilkan.
  • Faktor gen kini bisa memberikan penjelasan mengapa ada orang yang lebih rentan terkena kusta sedangkan yang lain tidak.

Studi yang dilakukan di China dan telah dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine menemukan tujuh mutasi gen yang bisa meningkatkan kerentanan seseorang terkena kusta. Hal ini bertentangan dengan apa yang selama ini dipercaya oleh para ahli bahwa kusta bukanlah penyakit yang diwariskan atau turunan.

“Selama ini orang mengira penyebaran penyakit kusta karena faktor penularannya, tapi studi kami membuktikan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh faktor genetika. Jika orangtuanya memiliki penyakit kusta, maka sangat mungkin si anak juga kena,” ujar peneliti Zhang Furen dari Institute of Dermatology and Venereology, Provinsi Shandong di timur laut China, seperti diberitakan dari Reuters.

Selain itu didapatkan pula dalam satu pasangan yang seseorang menderita kusta tetapi pasangannya tidak terinfeksi meskipun sudah hidup bersama puluhan tahun. Ini membuktikan bahwa kusta bukanlah penyakit yang menular, tapi berhubungan dengan sesuatu yang diwariskan.

“Apa yang kami temukan adalah adanya alasan internal. Kami menemukan tujuh gen yang membuat seseorang rentan terhadap penyakit kusta, karenanya banyak hal yang harus dilakukan dengan genetika ini,” ungkap Zhang.

Peneliti menganalisis gen dari 706 penderita kusta dan 1.225 orang yang tidak mengidap kusta. Didapatkan tujuh versi mutasi gen yang muncul pada orang-orang penderita kusta. Lima diantara gen tersebut terlibat dalam pengaturan sistem kekebalan tubuh.

Zhang menuturkan penyakit kusta memiliki masa inkubasi yang panjang yaitu antara 8 hingga 10 tahun, setelah terjadi gejala di permukaan maka penyakit ini akan menyebabkan kerusakan permanen. Nantinya jika seseorang sudah diketahui memiliki kerentanan terhadap penyakit kusta, maka bisa segera dilakukan tindakan pencegahan.

Kusta atau biasa disebut dengan penyakit Hansen disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit ini bisa memberikan efek pada kulit, selaput lendir, saraf perifer dan mata.

Efek yang diakibatkan menimbulkan kerusakan saraf permanen, jadi bagi orang yang sudah sembuh nantinya tidak bisa merasakan sakit. Sedangkan luka yang kecil atau lecet pada jari tangan dan kaki bisa berubah menjadi radang yang parah dan membuat kondisi hidup tidak sehat.

Meskipun kusta sudah tidak menjadi masalah yang serius di beberapa negara maju, tapi penemuan ini sangat penting bagi negara berkembang. Menurut Organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2007 ada sekitar 254.525 kasus kusta baru di daerah tropis dan sub tropis, sedangkan di China sendiri tiap tahunnya ada 2.000 kasus baru.

Jenis Cacat Kusta

Kelompok pada cacat primer, ialah kelompok cacat yang disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, terutama kerusakan akibat respons jaringan terhadap kuman Kusta.
Kelompok cacat sekunder, cacat sekunder ini terjadi akibat cacat primer, terutama akibat adanya kerusakan saraf (sensorik, motorik, otonom). Kelumpuhan motorik menyebabkan kontraktur sehingga dapat menimbulkan gangguan mengenggam atau berjalan, juga memudahkan terjadinya luka. Kelumpuhan saraf otonom menyebabkan kulit kering dan elastisitas berkurang. Akibatnya kulit mudah retak-retak dan dapat terjadi infeksi sekunder.

sumber : suaramedia.com

 


 

 

 

 

 

 

 


 

Seminar Penyembuhan Luka Batin

Apa itu LUKA BATIN?

Dan APA PENYEBABNYA?

Tiap orang pasti menyimpan luka hati atau luka batin. Beberapa orang mampu untuk mengatasinya dan mencari jalan keluar, namun yang lain tidak mampu. Luka batin dapat mengakibatkan seseorang menderita stres atau depresi.

 

KORPAR CHOICE KATEDRAL JAKARTA kembali akan mengadakan :

SEMINAR PENYEMBUHAN LUKA BATIN
(Konseling dan Metode Terapi Sederhana Untuk Inner Healing)

Pembicara : RD. Alfons Sebatu, Ph.D

Di seminar ini akan dijelaskan tentang apa itu luka batin dan apa penyebabnya. Selanjutnya, juga diajarkan metode konseling dan terapi sederhana untuk menyembuhkan luka batin secara bertahap.

Seminar Penyembuhan Luka Batin akan diadakan pada :
Hari/Tanggal      : Sabtu, 22 Juni 2013
Waktu                     : Pk. 09.30 – 16.30 WIB, ditutup dgn Perayaan Ekaristi.
Tempat                  : Function Hall Vitra
Komplek Panti Asuhan Vincentius Putra
Jl. Kramat Raya No. 134
Jakarta Pusat 10430
Harga Tiket         : Rp. 100.000,- (incld. Snack dan Lunch)

Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut, harap hubungi :
1.  Fanny : 0818 0871 7474
2.  Yuni : 0815 8518 5019
3.  Rita : 021 6882 9966
4.  Arifin : 0856 780 9848, Pin BB : 33214725

Keterangan :
1.  Batas akhir pendaftaran dan pelunasan 08 Juni 2013.
2.  Pembayaran dapat di transfer ke rekening :
BCA cab. Agung Sedayu II
a/c : 746 021 5557
a/n : Rita atau Fransisca Stefany W.
3.  Bukti transfer dapat dikirimkan via :
- Fax : 021 612 5519
- SMS : 021 6882 9966
- Email : info@pedulikusta.org

Seluruh hasil dari kegiatan ini akan diserahkan kepada Para Suster PRR untuk membiayai kegiatan mereka bagi para penderita dan mantan penderita kusta di NAOB, NTT.

200 Fotografer Sumbang Rumah Sakit Kusta

HIDUPKATOLIK.com – Koordinator Paroki (Kopar) Choice Katedral Jakarta mengadakan hunting dan lomba foto bertajuk “Photo for Love”, Sabtu, 4/8. Acara ini diikuti sekitar 200 fotografer dari Jakarta dan sekitarnya. Mereka memotret arsitektur bangunan Katedral St Maria Diangkat ke Surga Jakarta.

Selain memotret arsitektur bangunan yang telah berusia lebih dari 100 tahun ini, para fotografer juga turut menggalang dana bagi para penderita kusta di Rumah Sakit Rehabilitasi Kusta Maria Bunda Pembantu Abadi Naob, Kefa, Nusa Tenggara Timur. Rehabilitasi itu dikelola oleh Yayasan Sosial Ibu Anfrida, milik Tarekat Puteri Reinha Rosari (PRR).

Acara ini diadakan dalam rangkaian kegiatan Peduli Kusta yang telah dimulai sejak 2002. Dari 2002 hingga 2009, Kopar Choice Katedral telah mengadakan bakti sosial untuk para penderita dan mantan penderita kusta yang ditangani oleh Yayasan Sosial Marfati JMJ Tangerang. Pada tahun ini, Choice Katedral bekerjasama dengan Yayasan Sosial Ibu Anfrida.

Sejak 7 Oktober 1996, Yayasan Sosial Ibu Anfrida telah bercita-cita merawat para penderita kusta. Baru pada 28 Desember 1998, dengan bantuan berbagai pihak, yayasan ini mulai menerima pasien kusta di rumah sakit kusta yang didirikannya. Selama kurun waktu 1999-2000, rumah sakit ini hanya menerima pasien pria. Namun sejak 2001, rumah sakit kusta ini sudah bisa menerima pasien perempuan. Selain rumah sakit kusta, yayasan ini juga memberi pelayanan kepada anak-anak dengan mendirikan panti asuhan di Kupang.

Pemenang Lomba Photo for Love

Setelah diadakannya hunting dan lomba photo for love oleh Korpar Choice Katedral Peduli Kusta, berikut ini adalah pemenang dari lomba photo for love dari 2 kategori yang dilombakan. Para pemenang akan dihubungi oleh panitia peduli kusta untuk konfirmasi pengambilan hadiah.

Pengambilan hadiah lomba photo for love dapat diambil setiap hari selasa pada jam 19.30 – 21.00 sampai dengan tanggal 11 september 2011. Selamat untuk para pemenang. Terima kasih untuk sumbangsih dari 200 peserta lomba photo. Sumbangan kalian sangat berarti untuk semua para mantan penderita kusta di Yayasan Ibu Anfrida NAOB, Kupang.

 

Pemenang Lomba Photo Kategori Kamera DSLR

Juara I – Katedral Pembawa Cinta by Gunawan Rustandi

 

Juara II – The Cathedral’s Great Architechture by Irfan Kristianto

 

Juara III – Bunda by Yolanda Marcella

 

 

 

Pemenang Lomba Photo for Love Kategori Kamera Pocket/Smartphone

 

Juara 1 -  Ketuklah Maka Pintu Akan Dibukakan Bagimu by Hermanus YK

 

 

Juara 2 – Hati Kudus Yesus by Claudia Secorini Halim

 

Juara 3 -  Praying by Putranto Adi

Voting Photo Favorit Photo for Love

Berdasarkan hasil dari pengumpulan photo dari hunting dan lomba photo for love, para juri Photo for Love memilih 14 photo untuk dilombakan ke dalam kategori Photo Favorit. Photo favorit votingnya dilakukan mulai tanggal 27 Agustus 2012 sampai dengan 11 September 2012 Pk 16:00 ditutup votingnya. Bagaimana cara votingnya?

Semua pasti punya facebook donk? Silahkan klik link ini dan join grupnya. Setelah itu klik album photo “Pilihan Photo Favorit”. Pilih photo yang kalian suka, setelah itu klik LIKE pada photo yang kalian pilih. 2 Photo dengan Voting terbanyak yang akan menjadi pemenang dalam kategori ini. Adapun photo-photo yang ada adalah sebagai berikut ini :

 

Kunjungan Gubernur NTT ke Panti Rehabilitasi Kusta Naob

 

Tuesday, 14 February 2012

Print PDF
There are no translations available.
“Orang yang Datang Kami Anggap Mutiara”
KEFAMENANU – Ketua Yayasan Anfrida sekaligus Pengasuh Panti Rehabilitasi Kusta Naob, Suster Marsela, PRR, tak kuasa menahan haru ketika dikunjungi Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dan rombongan ke panti setempat, Sabtu (11/2/2012). Dia mengibaratkan kunjungan itu sebagai mutiara.

“Setiap orang yang datang kesini kami anggap mutiara yang terindah dan rahmat untuk kami, sebab tidak semua orang mau datang ke sini. Hanya orang-orang yang mempunyai hati dan peduli terhadap kami dan para penderita lepra yang mau berkorban untuk datang kesini,” kata Suster Marsela saat menyambut Gubernur Lebu Raya.

Gubernur Frans Lebu Raya bersama rombongan mengunjungi para penderita kusta di Panti Naob, Noemuti-TTU bertepatan dengan Hari Kusta dan Hari Orang Sakit (HOS) Sedunia, Sabtu (11/2/2012).

Kedatangan Gubernur Lebu Raya bersama rombongan disambut hangat Kepala Panti, Suster Marsela, PRR, suster-suster para pengasuh panti serta para penderita kusta. Para penderita kusta yang hadir terlihat seperti tidak sakit. Mereka berbaur bersama para masyarakat dan pengasuh di panti tersebut.

Gubernur Lebu Raya dalam sambutannya memberi apresiasi kepada para pengasuh panti kusta setempat. “Para suster sudah membuktikan bahwa mereka yang terkena kusta tidak harus dijauhi atau dibuang karena  mereka mempunyai hak yang sama seperti orang sehat,” kata Lebu Raya.

Dalam kunjungan itu, Gubernur memberikan bantuan berupa uang dan beras, diterima pengasuh panti, Suster Marsela, PRR.

Menurut salah satu suster pengasuh, suster Maria Ursula, PRR, kusta tidak menular selama para penderitanya mau mengonsumsi obat secara rutin. Dia mengakui, mereka yang dirawat di panti setempat tidak hanya mendapat pengobatan tetapi dibekali berbagai keterampilan. Mulai dari menjaga kebersihan diri, lingkungan, makanan serta keterampilan mengolah bahan pangan lokal.

Untuk kebuthan obat, Ursula mengatakan, sebagian dibantu pemerintah, sebagian lagi swadaya. Masa pengobatan dan penyembuhan setiap penderita, jelas Ursula, berbeda-beda, ada enam bulan, ada yang satu tahun. tergantung jenis kustanya.

“Kalau kusta kering dibutuhkan waktu enam bulan. Kusta basah sampai satu tahun dan kontrol harus rutin,” katanya.

PANTI REHABILITASI KUSTA NAOB

 

  1. Didirikan tahun 1976. Telah berhasil merawat sekitar 2000-an penderita kusta dari seluruh daerah di Indonesia
  2. Daiasuh 10 suster dan merawat sekitar 70 pasien, 38 di antaranya rawat inap dan sisanya rawat jalan
  3. Dari 38 pasien rawat inap, 20 di antaranya merupakan pasien baru
  4. Pasien kusta yang dirawat tidak hanya dari TTU. Juga dari Belu, TTS, Kupang, bahkan dari Jakarta
  5. Dalam merawat para pasien kusta, para suster dibantu dua dokter PTT

 

Ziarah Goa Maria “Tebar Kamulyan”

Dalam rangka melanjutkan kegiatan PEDULI KUSTA yang ke 4 kalinya Koordinator Paroki Choice Katedral Jakarta akan mengadakan beberapa aktivitas pada bulan Juni 2012 hingga pertengahan tahun 2013.

Sebagai kegiatan pembukaan, kami mengadakan Ziarah ke Goa Maria “Tebar Kamulyan”, Subang.

Ziarah diadakan pada hari Sabtu, 02 Juni 2013 dan di-ikuti oleh 61 orang.

Acara berjalan dengan lancar dan sukses.

Terima kasih kepada para peserta dan donatur yang telah berpartisipasi dalam mensukseskan acara ini.

Tuhan Memberkati !