Merangkul Mantan Penderita Kusta agar bangkit dari keterkucilan bersama Ir. Ciputra

Bapak Ir. Ciputra bersama dengan Perwakilan Grup Ciputra mengadakan kunjungan ke Komunitas Mantan Penderita Kusta, untuk memberikan semangat dan menyarankan agar mereka belajar ENTREPRENEURSHIP supaya lebih mandiri dan melawan stigma dan pengucilan dari masyarakat umum. Bagaimana menurut Anda? ‪#‎entrepreneur‬ ‪#‎entrepreneurship‬

Sumber : https://www.facebook.com/InsinyurCiputra

 

Ulang Tahun Blog dan Acara Peduli Kusta 2 Mei 2009 by Sandra Dewi

Sabtu, 2 Mei 2009

Untuk ulang tahun kali ini di tepat tanggal 2 mei aku mengadakan acara peduli kusta di Taman Ismail Marzuki. Acara mulai jam 6sore. Untuk tiket dan informasi bisa diliat di forum. Di acara amal ini aku sebagai duta mantan penderita orang kusta. Dimana aku harus menginformasikan kepada seluruh masyarakat di Indonesia kalau mereka yang sudah sembuh dari kusta, mereka tidak akan menularkan penyakit kusta mereka lagi. Jadi jangan mengucilkan mereka, dan jangan menyingkirkan mereka. Mereka adalah orang yang sangat menderita dan kurang mampu. Aku mengunjungi tempat rehabilitasi mereka, mereka menjahit, memotong kain dan menyetrika pakaian olahraga, seragam sekolah dan seragam kantor.

Mereka sangat terampil dan mengerjakan semua dengan rapi. Ketika orang2 tahu kalo yang mengerjakan adalah mantan penderita kusta, mereka batal untuk membelinya. Aku liat sendiri mereka sembuh dan punya anak normal. Aku juga mengunjungi rumah sakit kusta. Disana sangat memprihatinkan, anggota tubuh mereka di amputasi, mereka tergolek lemas dan bekas operasinya membusuk. Keadaan disana sangat miskin dan hawanya sangat tidak enak. Waktu kunjungan kesana banyak yang tidak mau turun, hanya aku , dokter dan cameramen saja. Bayangkan betapa susah menyadarkan orang2 kl mantan penderita kusta sudah sembuh tidak akan menularkan lagi penyakit mereka. Semoga apa yang aku kampanyekan bisa menyentuh hati orang lain yah, kita semua. Mereka saudara kita. Aku juga bukan siapa2 tapi aku hanya ingin mengajak teman2 untuk tahu tentang mereka. Sedikit dari kita tapi luar biasa buat mereka. Aku akan cerita gimana acaranya yah.

salam sd

KORPAR Choice Katedral-Jakarta Gelar “Malam Kasih Peduli Kusta 3”

Posted: May. 04, 2009 18:27:01 WIB

JAKARTA – Setelah sukses dengan LG-Choice Peduli Kusta I tahun 2003, dan dilanjutkan dengan Malam Peduli Kusta II pada bulan April 2006 di Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, kembali dalam acara yang sama, Sabtu (2/5) lalu KORPAR Choice Katedral-Jakarta mengadakan “Malam Kasih Peduli Kusta 3”, bertempat di Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

 

Acara “Malam Kasih Peduli Kusta 3” yang digelar pada malam tersebut merupakan acara puncak dari rangkaian kegiatan Peduli Kusta 3 yang diadakan dalam rangka penggalangan dana bagi para mantan penderita kusta yang dikelola oleh Yayasan Marfati, JMJ Sitanala.

 

Masih kuatnya “Stigma” yang melekat pada diri para mantan penderita kusta dalam benak banyak orang, membuat masyarakat masih belum dapat menerima kehadiran para mantan penderita kusta di tengah-tengah kehidupan sosial dan pekerjaan.

 

Akibatnya, tak pelak banyak para mantan penderita kusta yang mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan mengais penghasilan. Banyak diantara mereka yang akhirnya menjadi pengangguran dan pengemis, sebagian yang beruntung menjadi tukang becak dan kuli kasar.

 

Melihat kenyataan yang miris tersebut dan upaya untuk meresponinya dalam tindakan nyata, Yayasan Sosial Marfati terpanggil untuk membantu memperbaiki tingkat kesejahteraan komunitas mantan penderita kusta melalui pemberian sarana usaha bagi mantan penderita kusta.

korpar-choice-katedral-jakarta-gelar-malam-kasih-peduli-kusta-3

 

Keterbatasan dana yang ada saat ini, menyebabkan hanya sedikit bidang usaha yang dapat dikelola yayasan tersebut, sehingga hanya sedikit sekali para mantan penderita kusta yang dapat dibantu. Untuk itu Yayasan Sosial Marfati bekerjasama dengan kelompok Bakti Sosial KORPAR Choice Katedral-Jakarta menyelenggarakan beberapa kegiatan yang telah dimulai sejak Juli 2008 sampai April 2009 dalam upaya pengggalangan dana guna melanjutkan pembinaan bagi orang-orang mantan penderita kusta,.

 

Konsep program yang dilakukan berupa pengenalan karya pelayanan Yayasan Sosial Marfati melalui rangkaian kegiatan penjualan Kupon Kasih, Seminar yang menghadirkan antara lain (Andrie Wongso, James Gwee, Tung Desem Waringin, Alexander Sriewiyono, Thomas Sugiarto), dan sebagai puncak rangkaian kegiatan tersebut digelar acara “Malam Kasih Peduli Kusta 3”.

 

Selain untuk memperkenalkan keberadaan dan aktivitas pelayanan Yayasan Sosial Marfati bagi para mantan penderita kusta kepada masyarakat dan upaya penggalangan dana, rangkaian kegiatan tersebut juga bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk ikut terlibat dalam pelayanan social bagi para mantan penderita kusta baik dalam bentuk bantuan dana maupun kerjasama.

 

Pada acara “Malam Kasih Peduli Kusta 3” lalu dipandu oleh Daniel Mananta dan Olga Lydia serta dimeriahkan oleh Sandra Dewi yang juga merupakan Humas KOMATA yang pada kesempatan tersebut secara simbolis menerima pengangkatan sebagai Duta Keliling Kusta.

 

Salah satu sesi acara yang cukup menegangkan dan mengundang antusiasme hadirin pada malam itu sesi penjualan lukisan yang berjudul “Merpati dan Nada Biru si Kusta” karya Tommy Tomdean seorang mantan penderita kusta.

 

Lukisan “Merpati dan Nada Biru si Kusta” tersebut berhasil terjual kepada penawar tertinggi senilai 45 juta rupiah kepada seorang pengusaha bernama Arpit yang pada kesempatan tersebut penyerahan sertifikat pembeliannya diwakili oleh Dr. A.B. Susanto SE, MA yang merupakan The Ambassador of The Leprosy Mission International to Indonesia.

 

Puncak acara yang berlangsung sukses dan meriah malam itu diakhiri dengan penampilan Operet “Gadis Pemain Biola”. Melalui kegiatan ini pihak panitia mengharapkan agar masyarakat dapat memberikan perhatian bagi para mantan penderita kusta melalui dukungan dana maupun bentuk kerjasama yang dapat membantu pelayanan misi Yayasan Sosial Marfati.

Sumber : http://www.christianpost.co.id/ministri/20090504/4800/korpar-choice-katedral-jakarta-gelar-malam-kasih-peduli-kusta-3/

 

CHARITY IN NAOB

Senin, 14 Maret 2011

INTRODUCING OF PRR
Puteri Reinha Rosary / SISTER ‘S OF LADY QUEEN OF Holy Rosary.
Puteri Reinha Rosary (PRR) Congregation is a native religious Order, founded in the small town LEBAO, Larantuka, East Flores, NTT, the Diocese of Larantuka, on August 15, 1958, by Mr. Bishop Larantuka Mgr. Gabriel Manek SVD, and Co founder of the Sisters Anfrida SSpS. When served in Lembata, Father Gabriel Manek, SVD diligent visiting lepers who at that time (the Japanese) were collected in a remote area. Although hampered by a variety of ways, including: destruction of boats that are often used to visit the Leprosy patients, but he continued to visit them on foot. Thanks to the efforts he was when he became the first bishop in Larantuka, at St. Lewoleba standing hospital. Damian serving lepers. PRR is now present in the church with the readiness to serve local needs on the go according to plan and will of God. With missions based on the vision of Founder, which is assistance for people with leprosy, so they feel welcome and try to live in society. Efforts to Christian ministry became one of his works. Then in 1998 she founded several walled buildings bebak (palm leaf midrib), to shelter the leprosy patients who need care, the end of September 1998 a team of medical referral from Sintanala Leprosy Hospital, Tangerang Naob review, and since then terjalinlah good cooperation.
At the time of serving the congregation PRR Atambua diocese, Dekanat East North Central, Kefamenanu, Soe, Rote and Kupang. With a population of around 30,000 inhabitants, of whom there who suffer from lepros, poor nutrition, education and low awareness and poor health. Some of them, stay far enough away from the center, and often they come by foot and inventory costs are minimal. They are isolated from society and family, and removed and stay in the garden, because surrounding communities are still afraid of leprosy.
SOCIAL FOUNDATION OF MOTHER ANFRIDA (YAYASAN SOSIAL IBU ANFIDA)
To help the accuracy and effectiveness of services PRR, the PRR built a social institution of the Foundation that is named YAYASAN SOSIAL IBU ANFRIDA, which provides social services in all areas of humanity, and for the Naob foundation serving the people of Leprosy. In 1996, Mother Sister Foundation Anfrida, SSpS, based in Larantuka establish clinics, maternity homes in the village of Eternal Mother Maid Naob, sub Noemuti East, North Central Timor regency. Social foundations of this anfrida mother, was inaugurated by the Decree of the Minister of Justice and Human Rights Republic of Indonesia No. C-2227.HT.01.02. TH 2006.

IN NAOB, PRR SISTER’S IN THE FOUNDATION SERVE LEPROSY, whether it be THAT is not better OR who had recovered (THOSE SUFFERING LIFE AND POOR)

CHARITY IN NAOB
Why choose NAOB:
Naob village was chosen because its remote location and challenging; were in line with the spirit of Msgr. Gabriel Manek as the founder of PRR. Located 15 km from Kupang-Atambua highway, the road to the location of the amplified still a land of coconut with a stone on the path to car tires, which in the rainy season conditions are very slippery. Arid region, and to get water, the sisters had to go to that place the river is 1 (one) kilometer from the site. For a while the sisters occupy a walled chapel from bebak (palm leaf midrib). The Diocese  provide land area of ​​10 ha to be managed, which is located opposite the chapel, a eucalyptus forest.
We are compelled to serve with sincerity and joy of Mother Mary Queen of the Rosary Maid Always for people with leprosy, disability, and other sick.
ABOUT LEPROSY
Leprosy disease in Indonesia ranks to 3 (three) from all over the world, after India and Brazil. Based on the report of the World Health Organization (WHO) in 2004, the number of new leprosy patients in Indonesia there are 16,549 cases. NTT including 1 (one) among the 12 (twelve) provincial prevalence of 1 (one) among 10,000 residents. In addition to the remote location of the patient, attitude of people who are still afraid of leprosy, is an obstacle to achieving the leprosy elimination target.
The disease of leprosy can lead to disability that is visible from the outside, so that sufferers shunned and feared. Therefore, the handling of defects plays an important role in the effort to eliminate Leprofobia. If leprofobia already lost, the leprosy patients can seek treatment without feeling ashamed / shy, so in turn later leprosy can be eradicated.
WHO Policy (followed also by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia) in the handling of leprosy patients is the treatment of the road. With this pattern, people with leprosy do not need to be hospitalized, except if the condition does need treatment in hospital. In Indonesia, the administration of drugs to sufferers of leprosy can be done in Puskemas. After undergoing treatment period (6 or 12 months, depending on the type of illness), then the patient is declared cured. Most of the leprosy patients, physical disability, who require further treatment (physiotherapy, Prosthetic, operations) that can only be done in hospitals that have facilities for it.
In NTT, the leprosy hospital was in CANCAR (Manggarai District, Flores Island) and Lewoleba (Lembata District, Island Lomblen). The existence of leprosy hospital in mainland East will greatly help the program to eradicate leprosy
NAOB used to be discarded PLACE TO THOSE SUFFERING LEPROSY. MANY PEOPLE IN THIS AREA ARE SUFFERING LEPROSY TREATMENT AND NOT GETTING A REASONABLE.
NAOB NOW IN SESSION
Thanks to the support of the donors, then in mid-2001 began to set up a permanent building which then serves as a simple outpatient clinic and operating room and an other building to practice various skills such as weaving and sewing sewing, in addition to two wards for male patients with a capacity of 30 beds and several wells with a jet pump. Land which was originally in the form of eucalyptus forests and shrubs, slowly made garden that produces rice, vegetables, cassava, sweet potatoes, corn, beans, etc..
As more and more activities in Naob, it was decided to establish a new foundation based in Kupang, with the name of Mother Anfrida Foundation (in honor of Mother co-founder of the Order PRR)
Currently being treated about 40 patients, 28 men and 12 women, come from various districts of Timor, the island of Rote, Sabu and many other islands around the East. Ward women need plus one unit again, because too many female patients.
  1. Leprosy Hospital and the General Disability Naob
On August 15, 2007, based on the Decree of the Head of East Nusa Tenggara Provincial Health Office, No: 339A/442A/VIII/2007 Medical Care, Rehabilitation Clinical status was upgraded to Leprosy Hospital, Leprosy and Disability General, in order to serve patients optimally. Then planned to build some mass building adjacent to each other in accordance with its function as a hospital, in a site area of ​​1.5 hectares, which is separate from the existing complex of buildings at this time. The plan, after the entire complex was completed hospital facility, all maintenance activities and a variety of diagnostic facilities and medical rehabilitation, moved to new locations, and the old building will be used for vocational training facilities, the protection in their independence to return to society. Currently Development uterus it running.
  1. Naob Rehabilitation Center
The human activities can be utilized for the pilot, for both health workers and ordinary people. With a capacity of 60 beds, the Leprosy Hospital in Naob Eternal Mother Maid can be used by doctors and nurses to better understand the clinical symptoms and disabled people with leprosy, as well as various efforts to prevent / reduce defects. Cooperation with the surgical team from within and outside the country will greatly help sufferers of a disability / injury, and in the long term can be used as a place of education for potential differences in particular plastic surgeon and orthopedic surgery, medical rehabilitation and physiotherapy. How health workers in treating and dealing with leprosy patients can also be an example for ordinary people so that they do not disgust and fear of lepers.
 In addition, plantation and livestock also may serve as an example and a training ground for the community around, especially in the processing of compost for fertilizer.
Mother Social Empowerment Program Foundation Anfrida To Leprosy Patients:
  1. The healing process that continues to walk with intensive care to the patients of Leprosy: This process includes the provision of drugs on a regular basis, routine treatment for wounds, Fisiotherapy, Orthophedic, Operation
  2. Socio-economic empowerment; Organic Agriculture, Livestock, traditional weaving, handicrafts, schools for children of leprosy and the poor, etc.
  3. Survey contak to the patient who may not be considered sekaigus discourse socialization of the importance of health
Progress in the future:
  1. Leprosy patients who had recovered and not recovered no trouble in the process of routine maintenance
  2. Leprosy patients are not cured and is cured not experiencing economic difficulties

Sumber : http://naobleprosy.blogspot.com/2011/03/charity-in-naob.html

PENDERITA KUSTA DI REHABILITASI NAOB NTT

Mungkin Naob bukanlah menjadi sebuah region yang sudah dikenal dengan luas oleh berbagai kalangan.
Namun dalam keterpencilan, Naob telah menjadi sebuah PELAYANAN KASIH.
Wacana ini merupakan wacana pertama sekaligus sangat sederhana untuk melihat lebih jauh tentang profil penderita kusta yang ada di Panti Rehabilitasi Naob.
Sumber : http://nongmoaidea.blogspot.com/2009/04/potret-penderita-kusta-di-naob-timor.html

HAPUS STIGMA DAN DISKRIMINASI TERHADAP KUSTA

Jakarta, 13 Februari 2013 Kecacatan pada penderita kusta, seringkali tampak menyeramkan bagi sebagian orang, sehingga muncul perasaan takut yang berlebihan terhadap kusta atau leprofobia. Akibatnya, meskipun penderita kusta telah sembuh secara medis, tapi predikat kusta tetap melekat pada diri mereka seumur hidup. Predikat ini melatar-belakangi permasalahan psikologis bagi Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK), sehingga mereka akan merasa takut, kecewa, depresi, tidak percaya diri, malu, merasa diri tidak berharga, tidak berguna, dan khawatir akan dikucilkan.

Demikian pernyataan Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, pada Pembukaan Workshop Pemberdayaan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) dan Peresmian Gedung Pelayanan Poliklinik Kusta Terpadu dalam rangka Peringatan Hari Kusta Sedunia ke-60, di Rumah Sakit Kusta Dr. Sitanala, Tangerang (13/2).

Hari Kusta Sedunia  diperingati pada hari Minggu terakhir bulan Januari setiap tahunnya. Pada 2013, Hari Kusta Sedunia jatuh pada 27 Januari 2013. Tema Hari Kusta Sedunia tahun ini adalah ”Hapus Stigma dan Diskriminasi terhadap Kusta” dengan sub-tema Kusta Tidak Menjadi Halangan untuk Berkarya.

“Stigma negatif menyebabkan hak asasi OYPMK  sebagai seorang manusia dan bagian dari masyarakat tidak terpenuhi”, ujar Menkes.

Dalam sambutannya, Menkes mencontohkan beberapa penolakan oleh masyarakat terhadap penderita kusta, antara lain dikeluarkan dari pekerjaan, dan diceraikan pasangan. Bahkan, tidak jarang diskriminasi ditunjukkan dalam bentuk keengganan petugas kesehatan melayani penderita kusta yang seharusnya justru memberikan pelayanan kepada penderita.

Menkes menerangkan pada peringatan Hari Kusta Sedunia tahun lalu, telah dilakukan Penandatanganan Piagam Seruan  Nasional Mengatasi  Kusta oleh organisasi wakil-wakil profesi. Piagam ini menyerukan agar stigma dan diskriminasi terhadap OYPMK di pelayanan kesehatan dihentikan.

Indonesia masih menjadi penyumbang kasus kusta nomor 3 terbanyak di dunia, setelah India dan Brasil. Pada 2011, Indonesia melaporkan 20.023 kasus baru kusta. Berdasarkan angka tersebut, jumlah kasus dengan  kecacatan tingkat 2, yaitu cacat yang kelihatan, berjumlah2.025 orang (10,11%).

Menkes menekankan bahwa dalam upaya pengendalian kusta, diperlukan perhatian dalam hal penemuan penderita kusta, serta pengobatan dini sebelum terjadinya kecacatan, khususnya di fasilitas pelayanan kesehatan.

“Upaya ini membutuhkan dukungan dari seluruh stakeholders dan seluruh lapisan masyarakat, termasuk OYPMK”, tandas Menkes.

Usai kegiatan peresmian, Menkes RI didampingi Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE; serta Direktur Utama RS Kusta Dr. Sitanala, drg. Liliana Lazuardy, M.Kes, berkunjung ke Poliklinik Kusta Terpadu, dan berinteraksi langsung dengan para pasien baik penderita kusta, maupun OYPMK.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website depkes.go.id dan alamat e-mail kontak@depkes.go.id

INFORMASI KUSTA DAN GEJALANYA

DokterSehat.com – Istilah kusta berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta atau lepra disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen.

Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata.

“Tidak seperti mitos yang beredar di masyarakat, kusta tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh yang begitu mudah, seperti pada penyakit tzaraath yang digambarkan dan sering disamakan dengan kusta.”

Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh manusia yang dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah. Waktu inkubasinya panjang, mungkin beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan pasien mendapatkan infeksi sewaktu masa kanak-kanak.

Tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan pada anggota badan atau bagian raut muka, dan mati rasa karena kerusakan syaraf tepi. Gejalanya memang tidak selalu tampak. Justru sebaiknya waspada jika ada anggota keluarga yang menderita luka tak kunjung sembuh dalam jangka waktu lama. Juga bila luka ditekan dengan jari tidak terasa sakit.

Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.

Kusta tipe Pausi Bacillary atau disebut juga kusta kering adalah bilamana ada bercak keputihan seperti panu dan mati rasa atau kurang merasa, permukaan bercak kering dan kasar serta tidak berkeringat, tidak tumbuh rambut/bulu, bercak pada kulit antara 1-5 tempat. Ada kerusakan saraf tepi pada satu tempat, hasil pemeriksaan bakteriologis negatif (-), Tipe kusta ini tidak menular.

Sedangkan Kusta tipe Multi Bacillary atau disebut juga kusta basah adalah bilamana bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata diseluruh kulit badan, terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, bercak pada kulit lebih dari 5 tempat, kerusakan banyak saraf tepi dan hasil pemeriksaan bakteriologi positif (+). Tipe seperti ini sangat mudah menular.

Tanda Penyakit Kusta

Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam, tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut yaitu:

  • Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia.
  • Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak.
  • Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus serta peroneus.
  • Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.
  • Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit.
  • Alis rambut rontok.
  • Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa).

Gejala Umum Kusta/Lepra

Gejala-gejala umum pada kusta / lepra, reaksi :

  • Panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil.
  • Noreksia.
  • Nausea, kadang-kadang disertai vomitus.
  • Cephalgia.
  • Kadang-kadang disertai iritasi, Orchitis dan Pleuritis.
  • Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia, Nepritis dan hepatospleenomegali.
  • Neuritis.
  • Penyebab Penyakit Kusta

Penyebab kusta adalah kuman mycobacterium leprae. Dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang, dikelilingi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri dari spesies Mycobacterium, berukuran panjang 1 – 8 micro, lebar 0,2 – 0,5 micro biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel dan bersifat tahan asam (BTA) atau gram positif, tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan asam”. Selain banyak membentuk safrifit, terdapat juga golongan organisme patogen (misalnya Mycrobacterium tuberculosis, Mycrobakterium leprae) yang menyebabkan penyakit menahun dengan menimbulkan lesi jenis granuloma infeksion. Mycobacterium leprae belum dapat dikultur pada laboratorium.

Kuman Mycobacterium Leprae menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan, kemudian kuman membelah dalam jangka 14-21 hari dengan masa inkubasi rata-rata dua hingga lima tahun. Setelah lima tahun, tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta mulai muncul antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, rasa kesemutan bagian anggota tubuh hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Cara Penularan

Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas, penularan di dalam rumah tangga dan kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan kusta.

Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:

Melalui sekresi hidung, basil yang berasal dari sekresi hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.
Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.

Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain :

1. Faktor Kuman kusta
Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh (solid) bentuknya, lebih besar kemungkinan menyebabkan penularan daripada kuman yang tidak utuh lagi. Mycobacterium leprae bersifat tahan asam, berbentuk batang dengan panjang 1-8 mikron dan lebar 0,2-0,5 mikron, biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin. Kuman kusta dapat hidup di luar tubuh manusia antara 1 sampai 9 hari tergantung suhu atau cuaca dan diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja dapat menimbulkan penularan (Depkes RI, 2002).

2. Faktor Imunitas
Sebagian manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Dari hasil penelitian menunjukan bahwa dari 100 orang yang terpapar, 95 orang yang tidak menjadi sakit, 3 orang sembuh sendiri tanpa obat dan 2 orang menjadi sakit. Hal ini belum lagi mempertimbangkan pengaruh pengobatan (Depkes RI, 2002).

3. Keadaan Lingkungan
Keadaan rumah yang berjejal yang biasanya berkaitan dengan kemiskinan, merupakan faktor penyebab tingginya angka kusta. Sebaliknya dengan meningkatnya taraf hidup dan perbaikan imunitas merupakan faktor utama mencegah munculnya kusta.

4. Faktor Umur
Penyakit kusta jarang ditemukan pada bayi. Incidence Rate penyakit ini meningkat sesuai umur dengan puncak pada umur 10 sampai 20 tahun dan kemudian menurun. Prevalensinya juga meningkat sesuai dengan umur dengan puncak umur 30 sampai 50 tahun dan kemudian secara perlahan-lahan menurun.

5. Faktor Jenis Kelamin
Insiden maupun prevalensi pada laki-laki lebih banyak dari pada wanita, kecuali di Afrika dimana wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Faktor fisiologis seperti pubertas, monopause, Kehamilan, infeksi dan malnutrisi akan mengakibatkan perubahan klinis penyakit kusta.


Upaya Pencegahan Penyakit Kusta

Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Faktor pengobatan adalah amat penting dimana kusta dapat dihancurkan, sehingga penularan dapat dicegah.

Pengobatan kepada penderita kusta adalah merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Kuman kusta diluar tubuh manusia dapat hidup 24-48 jam dan ada yang berpendapat sampai 7 hari, ini tergantung dari suhu dan cuaca diluar tubuh manusia tersebut. Makin panas cuaca makin cepatlah kuman kusta mati. Jadi dalam hal ini pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat yang lembab.

Penting sekali kita mengetahui atau mengerti beberapa hal tentang penyakit kusta ini, bahwa :

  • Ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta.
  • Sekurang-kurangnya 80 % dari semua orang tidak mungkin terkena kusta.
  • Enam dari tujuh kasus kusta tidaklah menular pada orang lain.
  • Kasus-kasus menular tidak akan menular setelah diobati kira-kira 6 bulan secara teratur.

Penanggulangan Penyakit Kusta

Penanggulangan penyakit kusta telah banyak dilakukan dimana-mana dengan maksud mengembalikan penderita kusta menjadi manusia yang berguna, mandiri, produktif dan percaya diri. Metode penanggulangan ini terdiri dari metode rehabilitasi yang terdiri dari rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial, rehabilitasi karya dan metode pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi, dimana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok tersendiri. Ketiga metode tersebut merupakan suatu sistem yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Di Indonesia, upaya yang dilakukan untuk pemberantasan penyakit kusta melalui :

  • Penemuan penderita secara dini.
  • Pengobatan penderita.
  • Penyuluhan kesehatan di bidang kusta.
  • Peningkatan ketrampilan petugas kesehatan di bidang kusta.
  • Rehabilitasi penderita kusta.
  • Sementara itu di Shandong, Penyakit kusta atau lepra bisa jadi merupakan salah satu penyakit yang ditakuti karena bisa membuat orang tersebut menjadi terkucilkan.
  • Faktor gen kini bisa memberikan penjelasan mengapa ada orang yang lebih rentan terkena kusta sedangkan yang lain tidak.

Studi yang dilakukan di China dan telah dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine menemukan tujuh mutasi gen yang bisa meningkatkan kerentanan seseorang terkena kusta. Hal ini bertentangan dengan apa yang selama ini dipercaya oleh para ahli bahwa kusta bukanlah penyakit yang diwariskan atau turunan.

“Selama ini orang mengira penyebaran penyakit kusta karena faktor penularannya, tapi studi kami membuktikan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh faktor genetika. Jika orangtuanya memiliki penyakit kusta, maka sangat mungkin si anak juga kena,” ujar peneliti Zhang Furen dari Institute of Dermatology and Venereology, Provinsi Shandong di timur laut China, seperti diberitakan dari Reuters.

Selain itu didapatkan pula dalam satu pasangan yang seseorang menderita kusta tetapi pasangannya tidak terinfeksi meskipun sudah hidup bersama puluhan tahun. Ini membuktikan bahwa kusta bukanlah penyakit yang menular, tapi berhubungan dengan sesuatu yang diwariskan.

“Apa yang kami temukan adalah adanya alasan internal. Kami menemukan tujuh gen yang membuat seseorang rentan terhadap penyakit kusta, karenanya banyak hal yang harus dilakukan dengan genetika ini,” ungkap Zhang.

Peneliti menganalisis gen dari 706 penderita kusta dan 1.225 orang yang tidak mengidap kusta. Didapatkan tujuh versi mutasi gen yang muncul pada orang-orang penderita kusta. Lima diantara gen tersebut terlibat dalam pengaturan sistem kekebalan tubuh.

Zhang menuturkan penyakit kusta memiliki masa inkubasi yang panjang yaitu antara 8 hingga 10 tahun, setelah terjadi gejala di permukaan maka penyakit ini akan menyebabkan kerusakan permanen. Nantinya jika seseorang sudah diketahui memiliki kerentanan terhadap penyakit kusta, maka bisa segera dilakukan tindakan pencegahan.

Kusta atau biasa disebut dengan penyakit Hansen disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit ini bisa memberikan efek pada kulit, selaput lendir, saraf perifer dan mata.

Efek yang diakibatkan menimbulkan kerusakan saraf permanen, jadi bagi orang yang sudah sembuh nantinya tidak bisa merasakan sakit. Sedangkan luka yang kecil atau lecet pada jari tangan dan kaki bisa berubah menjadi radang yang parah dan membuat kondisi hidup tidak sehat.

Meskipun kusta sudah tidak menjadi masalah yang serius di beberapa negara maju, tapi penemuan ini sangat penting bagi negara berkembang. Menurut Organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2007 ada sekitar 254.525 kasus kusta baru di daerah tropis dan sub tropis, sedangkan di China sendiri tiap tahunnya ada 2.000 kasus baru.

Jenis Cacat Kusta

Kelompok pada cacat primer, ialah kelompok cacat yang disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, terutama kerusakan akibat respons jaringan terhadap kuman Kusta.
Kelompok cacat sekunder, cacat sekunder ini terjadi akibat cacat primer, terutama akibat adanya kerusakan saraf (sensorik, motorik, otonom). Kelumpuhan motorik menyebabkan kontraktur sehingga dapat menimbulkan gangguan mengenggam atau berjalan, juga memudahkan terjadinya luka. Kelumpuhan saraf otonom menyebabkan kulit kering dan elastisitas berkurang. Akibatnya kulit mudah retak-retak dan dapat terjadi infeksi sekunder.

sumber : suaramedia.com

 


 

 

 

 

 

 

 


 

200 Fotografer Sumbang Rumah Sakit Kusta

HIDUPKATOLIK.com – Koordinator Paroki (Kopar) Choice Katedral Jakarta mengadakan hunting dan lomba foto bertajuk “Photo for Love”, Sabtu, 4/8. Acara ini diikuti sekitar 200 fotografer dari Jakarta dan sekitarnya. Mereka memotret arsitektur bangunan Katedral St Maria Diangkat ke Surga Jakarta.

Selain memotret arsitektur bangunan yang telah berusia lebih dari 100 tahun ini, para fotografer juga turut menggalang dana bagi para penderita kusta di Rumah Sakit Rehabilitasi Kusta Maria Bunda Pembantu Abadi Naob, Kefa, Nusa Tenggara Timur. Rehabilitasi itu dikelola oleh Yayasan Sosial Ibu Anfrida, milik Tarekat Puteri Reinha Rosari (PRR).

Acara ini diadakan dalam rangkaian kegiatan Peduli Kusta yang telah dimulai sejak 2002. Dari 2002 hingga 2009, Kopar Choice Katedral telah mengadakan bakti sosial untuk para penderita dan mantan penderita kusta yang ditangani oleh Yayasan Sosial Marfati JMJ Tangerang. Pada tahun ini, Choice Katedral bekerjasama dengan Yayasan Sosial Ibu Anfrida.

Sejak 7 Oktober 1996, Yayasan Sosial Ibu Anfrida telah bercita-cita merawat para penderita kusta. Baru pada 28 Desember 1998, dengan bantuan berbagai pihak, yayasan ini mulai menerima pasien kusta di rumah sakit kusta yang didirikannya. Selama kurun waktu 1999-2000, rumah sakit ini hanya menerima pasien pria. Namun sejak 2001, rumah sakit kusta ini sudah bisa menerima pasien perempuan. Selain rumah sakit kusta, yayasan ini juga memberi pelayanan kepada anak-anak dengan mendirikan panti asuhan di Kupang.

Kunjungan Gubernur NTT ke Panti Rehabilitasi Kusta Naob

 

Tuesday, 14 February 2012

Print PDF
There are no translations available.
“Orang yang Datang Kami Anggap Mutiara”
KEFAMENANU – Ketua Yayasan Anfrida sekaligus Pengasuh Panti Rehabilitasi Kusta Naob, Suster Marsela, PRR, tak kuasa menahan haru ketika dikunjungi Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dan rombongan ke panti setempat, Sabtu (11/2/2012). Dia mengibaratkan kunjungan itu sebagai mutiara.

“Setiap orang yang datang kesini kami anggap mutiara yang terindah dan rahmat untuk kami, sebab tidak semua orang mau datang ke sini. Hanya orang-orang yang mempunyai hati dan peduli terhadap kami dan para penderita lepra yang mau berkorban untuk datang kesini,” kata Suster Marsela saat menyambut Gubernur Lebu Raya.

Gubernur Frans Lebu Raya bersama rombongan mengunjungi para penderita kusta di Panti Naob, Noemuti-TTU bertepatan dengan Hari Kusta dan Hari Orang Sakit (HOS) Sedunia, Sabtu (11/2/2012).

Kedatangan Gubernur Lebu Raya bersama rombongan disambut hangat Kepala Panti, Suster Marsela, PRR, suster-suster para pengasuh panti serta para penderita kusta. Para penderita kusta yang hadir terlihat seperti tidak sakit. Mereka berbaur bersama para masyarakat dan pengasuh di panti tersebut.

Gubernur Lebu Raya dalam sambutannya memberi apresiasi kepada para pengasuh panti kusta setempat. “Para suster sudah membuktikan bahwa mereka yang terkena kusta tidak harus dijauhi atau dibuang karena  mereka mempunyai hak yang sama seperti orang sehat,” kata Lebu Raya.

Dalam kunjungan itu, Gubernur memberikan bantuan berupa uang dan beras, diterima pengasuh panti, Suster Marsela, PRR.

Menurut salah satu suster pengasuh, suster Maria Ursula, PRR, kusta tidak menular selama para penderitanya mau mengonsumsi obat secara rutin. Dia mengakui, mereka yang dirawat di panti setempat tidak hanya mendapat pengobatan tetapi dibekali berbagai keterampilan. Mulai dari menjaga kebersihan diri, lingkungan, makanan serta keterampilan mengolah bahan pangan lokal.

Untuk kebuthan obat, Ursula mengatakan, sebagian dibantu pemerintah, sebagian lagi swadaya. Masa pengobatan dan penyembuhan setiap penderita, jelas Ursula, berbeda-beda, ada enam bulan, ada yang satu tahun. tergantung jenis kustanya.

“Kalau kusta kering dibutuhkan waktu enam bulan. Kusta basah sampai satu tahun dan kontrol harus rutin,” katanya.

PANTI REHABILITASI KUSTA NAOB

 

  1. Didirikan tahun 1976. Telah berhasil merawat sekitar 2000-an penderita kusta dari seluruh daerah di Indonesia
  2. Daiasuh 10 suster dan merawat sekitar 70 pasien, 38 di antaranya rawat inap dan sisanya rawat jalan
  3. Dari 38 pasien rawat inap, 20 di antaranya merupakan pasien baru
  4. Pasien kusta yang dirawat tidak hanya dari TTU. Juga dari Belu, TTS, Kupang, bahkan dari Jakarta
  5. Dalam merawat para pasien kusta, para suster dibantu dua dokter PTT